PERANG TARIF VS EFISINSI LABA SAHAM TELKOM DAN INDOSAT SAMA-SAMA TERGERUS
Perang Tarif vs Efisiensi, Laba Telkom dan Indosat Sama-Sama Tergerus di Kuartal III
JAKARTA, Bisnis.com – Persaingan yang intens dan kebutuhan investasi infrastruktur yang masif terbukti menjadi beban ganda bagi operator telekomunikasi terbesar di Indonesia. Laporan kinerja Kuartal III/2025 menunjukkan bahwa PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Indosat Tbk (ISAT) kompak mencatatkan penurunan laba bersih, meskipun dengan persentase yang sedikit berbeda.
Data ini menggarisbawahi tantangan sektor telekomunikasi, di mana pertumbuhan pendapatan seringkali harus dibayar mahal dengan pengeluaran operasional dan biaya amortisasi yang tinggi.
Data Utama: Kompak Menurun di Tengah Kebutuhan Capex
| Emiten | Laba Bersih Q3/2025 (Triliun Rupiah) | Penurunan Laba Bersih (YoY) |
| TLKM | Rp15,7 | 10.70% |
| ISAT | Rp3,58 | 7.5% |
Analisis Komparatif: Margin dan Strategi
Meskipun secara persentase ISAT mencatatkan penurunan laba bersih yang lebih kecil (7,5%) dibandingkan TLKM (10,70%), akar permasalahan penurunan laba keduanya memiliki kesamaan, namun dengan penekanan yang berbeda dalam hal strategi.
Tekanan Average Revenue Per User (ARPU): Sektor ini terus menghadapi perang tarif yang membuat pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) sulit untuk didongkrak secara signifikan. Operator seringkali harus memberikan promo agresif untuk mempertahankan market share, yang pada akhirnya menggerus margin kotor.
Beban Amortisasi dan Capex: Penurunan laba TLKM, salah satunya, dipengaruhi oleh kebutuhan Capital Expenditure (Capex) yang masif untuk pengembangan infrastruktur 4G/5G dan fixed broadband (IndiHome). Beban penyusutan (amortisasi) dari investasi ini secara struktural menekan laba bersih.
Strategi Efisiensi ISAT: ISAT, pasca-merger, menunjukkan bahwa penurunan labanya yang lebih moderat mungkin didukung oleh keberhasilan integrasi jaringan dan sinergi biaya (cost synergy) yang lebih cepat tercapai. Efisiensi operasional menjadi kunci utama ISAT untuk menahan tekanan dari penurunan ARPU.
Tren ke Depan: Fokus pada Konsolidasi dan Ekosistem Digital
Penurunan laba ini menjadi pengingat bahwa masa pertumbuhan pesat di sektor telekomunikasi tradisional (voice dan data dasar) telah berakhir. Kedua raksasa ini diprediksi akan mengubah fokus utama mereka:
TLKM: Akan semakin mengintensifkan diversifikasi ke layanan digital B2B (bisnis ke bisnis) dan cloud untuk mengimbangi penurunan dari layanan legacy. Laba bersih TLKM akan sangat tergantung pada seberapa cepat segmen digital ini bisa memberikan kontribusi pendapatan yang besar.
ISAT: Berupaya memaksimalkan sinergi yang tersisa dan memanfaatkan big data untuk menawarkan paket yang lebih tersegmentasi dan berharga tinggi, menghindari perang harga yang destruktif.
Investor perlu memantau emiten mana yang lebih berhasil dalam mengalihkan beban Capex menjadi return yang solid, serta mana yang paling efektif memanfaatkan efisiensi merger (bagi ISAT) atau investasi digital (bagi TLKM) untuk membalikkan tren penurunan laba di kuartal mendatang.
Komentar
Posting Komentar