SAHAM AMMN CATAT KERUGIAN BERSIH RATUSAN JUTA DILAR



Jatuh di Kuartal Ketiga, AMMN Catatkan Kerugian Bersih Ratusan Juta Dolar, Ini Jalur Pemulihannya

JAKARTA, Bisnis.com – Di tengah gelombang tekanan kinerja yang melanda bursa, PT AMMAN Mineral International Tbk (AMMN), salah satu emiten tambang terbesar yang baru melantai di bursa, menarik perhatian dengan mencatat kerugian yang signifikan. Laporan keuangan Kuartal III/2025 menunjukkan bahwa AMMN membukukan kerugian bersih sebesar US$178,5 juta, atau setara dengan sekitar Rp2,7 triliun (kurs Rp15.000), jauh berbeda dari ekspektasi laba yang biasanya dipegang oleh emiten pertambangan.

Angka kerugian yang besar ini menjadi pengingat bagi investor akan risiko inherent dalam industri pertambangan skala besar, terutama saat perusahaan berada dalam fase pengembangan dan penyesuaian produksi.

Data Utama: Kerugian di Tengah Ekspansi Besar

EmitenKerugian Bersih Q3/2025Status Kinerja
AMMNUS$178,5 jutaMerugi di tengah tren profitabilitas sektor

Penyebab Kerugian: Fase Pengembangan dan Biaya Non-Kas

Kerugian yang dialami AMMN di Kuartal III tidak serta-merta mencerminkan kegagalan operasional, melainkan lebih disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang terkait dengan fase proyek besar:

  1. Biaya Pra-Operasional dan Depresiasi: AMMN sedang berada dalam fase intensif pembangunan dan perluasan proyek. Biaya-biaya yang timbul dari pengembangan infrastruktur, amortisasi, dan depresiasi aset baru yang belum mencapai kapasitas produksi penuh harus dibebankan pada periode ini. Biaya non-kas (seperti depresiasi) ini secara signifikan menekan laba bersih secara akuntansi.

  2. Volatilitas Harga Komoditas: Meskipun AMMN beroperasi di segmen komoditas safe haven seperti emas dan tembaga, pergerakan harga jual yang fluktuatif selama kuartal tersebut dapat memengaruhi marjin pendapatan sebelum biaya tetap dibebankan.

  3. Beban Bunga Pinjaman: Proyek skala besar seperti tambang memerlukan investasi modal yang masif, yang sering kali didanai melalui utang. Beban bunga dari pinjaman ini menjadi pengeluaran tetap yang besar, dan di tengah suku bunga tinggi, beban ini semakin menekan laba.

Prospek Pemulihan: Menanti Skala Ekonomi Optimal

Investor perlu melihat kerugian ini dalam konteks jangka panjang. Kerugian di fase awal operasional bukanlah hal yang aneh bagi emiten dengan proyek greenfield atau brownfield besar.

Jalur pemulihan AMMN akan sangat bergantung pada beberapa faktor kunci:

  • Pencapaian Kapasitas Penuh: Kunci utama adalah seberapa cepat AMMN dapat mengoptimalkan dan mencapai skala ekonomi dari seluruh asetnya. Semakin tinggi volume produksi, semakin cepat beban tetap per unit akan turun.

  • Proyek Hilirisasi: Komitmen AMMN terhadap pengembangan smelter (hilirisasi) akan menjadi fokus utama. Setelah smelter beroperasi penuh, penjualan produk olahan (bukan hanya konsentrat) diharapkan dapat meningkatkan nilai jual dan margin perusahaan secara signifikan.

  • Efisiensi Biaya: Manajemen perlu melakukan efisiensi operasional secara ketat untuk mengendalikan biaya produksi seiring dengan stabilisasi harga energi.

Kesimpulan: Kerugian AMMN merupakan cerminan dari tantangan transisional. Bagi investor berorientasi jangka panjang, kerugian ini dapat dilihat sebagai biaya yang diperlukan untuk mencapai pertumbuhan masif di masa depan, asalkan manajemen dapat memastikan proyek-proyek besar mereka berjalan sesuai jadwal dan anggaran.

Komentar