DAFTAR EMITAN DENGAN LABA BERSIH PALING DALAM TERKOREKSI DI KUARTAL III
Daftar Emiten Paling Likuid yang Laba Bersihnya Terkoreksi Paling Dalam di Kuartal III
JAKARTA, Bisnis.com – Dalam strategi investasi, likuiditas sering dianggap sebagai indikator penting kemudahan transaksi. Namun, apakah status sebagai emiten paling likuid (masuk dalam indeks LQ45) selalu menjamin kualitas fundamental yang kuat, terutama di masa tekanan ekonomi?
Laporan kinerja Kuartal III/2025 memberikan jawaban yang kompleks. Data menunjukkan bahwa sejumlah emiten dengan likuiditas tertinggi di bursa ternyata tidak imun terhadap gejolak, bahkan mencatatkan koreksi laba yang signifikan, menjadi peringatan bagi trader dan analis teknis yang hanya berpegangan pada volume transaksi.
Data Kunci: Ketika Likuiditas Kontra Laba
Berikut adalah daftar singkat emiten LQ45 yang laba bersihnya mengalami koreksi tajam:
| Emiten | Sektor | Status Likuiditas (LQ45) | Penurunan Laba Bersih (YoY) / Kerugian |
| PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) | Material Dasar | Sangat Likuid | 84% (Penurunan Paling Tajam) |
| Bank Mandiri (BMRI) | Keuangan | Sangat Likuid | 10.20% |
| Bank Negara Indonesia (BBNI) | Keuangan | Sangat Likuid | 9.51% |
| Telkom Indonesia (TLKM) | Telekomunikasi | Sangat Likuid | 10.70% |
| AMMAN Mineral Int. (AMMN) | Pertambangan | Cukup Likuid | Rugi Bersih US$178,5 juta |
Analisis Trader: Kualitas vs. Volume
Fenomena ini menyoroti bahwa volume dan value transaksi yang tinggi (likuiditas) hanya mencerminkan minat pasar, bukan selalu mencerminkan kekuatan earning (laba) perusahaan dalam periode tersebut.
SMGR: Meskipun likuiditasnya tinggi, saham ini menjadi korban utama dari faktor fundamental (biaya energi tinggi dan harga jual stagnan). Bagi trader, ini menjadi kasus klasik "jangan hanya melihat chart tanpa melihat fundamental".
Big Banks (BMRI & BBNI): Likuiditas saham bank tetap terjaga karena posisinya sebagai safe haven dan bobotnya di indeks. Namun, penurunan laba menggarisbawahi risiko sistemik dari suku bunga tinggi yang tidak bisa dihindari, bahkan oleh bank terbesar.
AMMN: Meskipun memiliki likuiditas yang baik berkat free float besar pasca-IPO, kerugian signifikan mengingatkan trader bahwa saham newly-listed di sektor komoditas memiliki risiko yang tinggi di fase awal proyek.
Peringatan bagi Fast Trader
Data ini menegaskan bahwa emiten LQ45 dapat dibagi menjadi dua kelompok besar di Kuartal III:
Likuiditas dengan Laba Tertekan: Mereka yang tertekan oleh makro (Contoh: Bank, Komoditas). Saham-saham ini rentan terhadap aksi jual fundamental meski volume transaksinya tinggi.
Likuiditas dengan Laba Melejit: Mereka yang didorong oleh one-off gain (Contoh: BRPT dan EMTK). Lonjakan laba ini sering memicu rally signifikan, tetapi trader harus mewaspadai apakah gain tersebut bersifat berkelanjutan atau hanya non-recurring.
Kesimpulan: Bagi trader modern, status likuiditas harus dijadikan filter awal, bukan sebagai jaminan kualitas. Di tengah ketidakpastian ekonomi, analisis fundamental terhadap Margin Keuntungan dan Penyebab Utama Laba (operasional atau non-operasional) menjadi jauh lebih krusial daripada sekadar volume harian. Koreksi laba tajam di saham-saham likuid ini dapat memicu volatilitas jangka pendek yang tinggi, menciptakan peluang sekaligus risiko besar di Kuartal IV.
Komentar
Posting Komentar