LABA SAHAM SMGR DAN AADI TERJUN BEBAS DI ATAS 45%



Harga Komoditas Anjlok, Laba SMGR dan AADI Terjun Bebas di Atas 45%, AMMN Rugi Ratusan Juta Dolar

JAKARTA, Bisnis.com – Dinamika harga komoditas global dan domestik terbukti menjadi bumerang yang memukul kinerja emiten sektor material dasar dan perkebunan. Laporan Kuartal III/2025 menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang sangat bergantung pada harga komoditas mentah dan produk olahannya mencatatkan koreksi laba yang tajam, bahkan hingga menelan kerugian.

Tekanan makro dari kenaikan biaya energi serta pelemahan harga jual menjadi faktor utama yang merusak margin keuntungan sektor ini.

Data Utama: Dampak Penuh Volatilitas Harga

EmitenSektorPenurunan Laba Bersih (YoY) / Kerugian
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR)Material Dasar (Semen)84% (Penurunan Paling Tajam)
AADIPerkebunan (CPO)45,35%
AMMNPertambangan (Emas & Tembaga)Rugi Bersih US$178,5 juta

Analisis Kasus 1: Semen Indonesia (SMGR) dan Tekanan Biaya Energi

Koreksi laba bersih SMGR yang mencapai 84% menjadi yang paling tajam di antara LQ45. Meskipun permintaan semen domestik relatif stabil, laba perseroan tergerus dari dua sisi:

  1. Harga Jual Domestik Stagnan: Kompetisi yang ketat di pasar semen domestik membuat harga jual sulit dinaikkan, menahan pendapatan untuk tumbuh.

  2. Kenaikan Biaya Produksi: Kenaikan biaya energi, terutama harga batu bara dan gas yang merupakan bahan bakar utama dalam proses produksi klinker, secara signifikan meningkatkan Harga Pokok Penjualan (HPP).

Ketidakmampuan perusahaan pelat merah ini untuk sepenuhnya membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen akhirnya menekan Margin Keuntungan Kotor (GPM) hingga ke level terendah.

Analisis Kasus 2: AADI dan Fluktuasi Harga CPO

Penurunan laba bersih AADI sebesar 45,35% mencerminkan kondisi industri minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO). Harga CPO global, setelah mencapai puncaknya beberapa waktu lalu, telah terkoreksi signifikan sepanjang tahun 2025.

Selain tekanan harga jual, laba perusahaan sawit juga dibebani oleh tingginya biaya pupuk (meskipun mulai menurun) serta kebijakan pungutan ekspor CPO yang bersifat fluktuatif, yang secara langsung mengurangi penerimaan bersih yang dibawa pulang oleh produsen.

Analisis Kasus 3: AMMN dan Risiko Proyek Besar

Kerugian bersih yang dicatat oleh AMMAN Mineral International (AMMN) sebesar $178,5 juta menunjukkan risiko yang melekat pada operasional pertambangan besar.

Kerugian ini ditengarai bukan hanya akibat fluktuasi harga emas dan tembaga, tetapi juga dari tingginya biaya pra-operasional dan depresiasi aset yang baru mulai berproduksi secara penuh. Untuk emiten yang baru IPO dan sedang dalam fase pengembangan besar-besaran, laba seringkali tertahan oleh biaya operasional awal dan depresiasi yang besar sebelum mencapai skala ekonomi yang optimal.

Prospek: Menanti Titik Balik Harga Komoditas

Kinerja sektor ini di Kuartal IV akan sangat bergantung pada pembalikan tren harga komoditas di pasar global. Investor yang tertarik pada sektor ini harus mencermati emiten yang memiliki struktur biaya paling efisien dan diversifikasi produk yang baik untuk meredam dampak volatilitas harga. Tanpa adanya pemulihan harga yang signifikan, tekanan pada margin laba emiten komoditas dan material dasar ini diprediksi akan terus berlanjut.

Komentar